Sorong, 26 Februari 2026 – Sebanyak 95 pelaku usaha UMKM lokal, pegiat ekowisata, dan perwakilan NGO dari wilayah Papua, Maluku, dan Sulawesi mengikuti Pertemuan Mitra Koperasi yang berlangsung selama tiga hari, 23-25 Februari 2026, di Hotel Vega Prime, Sorong. Pertemuan ini menjadi ruang strategis bagi para pegiat ekonomi lokal untuk saling bertukar informasi, belajar dari praktik baik, serta merumuskan langkah advokasi di tingkat tapak guna mewujudkan pengembangan ekonomi berkelanjutan di Indonesia Timur.
Beragam produk unggulan daerah menjadi sorotan dalam diskusi, mulai dari kopra, keripik pisang, pala, nilam, cengkeh, sagu, produk perikanan, hingga pengelolaan homestay untuk mendukung sektor ekowisata. Komoditas-komoditas ini dinilai memiliki potensi besar tidak hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi juga sebagai fondasi peningkatan ekonomi masyarakat adat secara bermartabat.
Dalam sambutannya, Bustar Maitar menegaskan bahwa misi Econusa di tahun 2026 adalah mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas produk-produk UMKM yang saat ini dikerjakan oleh masyarakat. Ia mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan pertemuan ini sebagai momentum belajar dan menimba pengalaman antarsesama pelaku usaha.
“Kita yang berkumpul di ruangan ini harus saling belajar. Satu sama lain punya pengalaman dan ilmu berharga. Inilah saatnya kita berbagi dan menguatkan jejaring,” ujar Bustar.
Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari agenda tahun sebelumnya yang mengusung tema Ekonomi Restoratif. Konsep tersebut menitikberatkan pada pengembangan ekonomi yang berkesadaran lingkungan, sebagai antitesis dari praktik ekonomi ekstraktif dan destruktif yang selama ini kerap merusak ekosistem dan menggerus hak masyarakat adat.
Willy, salah satu fasilitator dalam pertemuan ini, menambahkan bahwa penguatan sektor ekonomi restoratif memerlukan partisipasi massif dari masyarakat. “Saat ini kita membutuhkan paling tidak 500 ribu orang yang bekerja di sektor ekonomi restoratif, agar pendapatan yang dihasilkan mampu mengimbangi besarnya skala ekonomi ekstraktif. Ini tantangan besar, tapi juga peluang besar bagi kita semua,” jelasnya.
Sepanjang tiga hari pelaksanaan, para peserta tidak hanya berdiskusi, tetapi juga menyusun peta jalan kolaborasi antarsektor. Pertemuan ini diharapkan mampu melahirkan simpul-simpul kerja sama yang sinergis antara UMKM, pelaku ekowisata, NGO, dan pemerintah daerah.
Harapan terbesar dari forum ini adalah terciptanya ekosistem kolaboratif yang mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat lokal tanpa mengorbankan kelestarian alam dan nilai-nilai budaya adat. Dengan semangat gotong royong dan inovasi berkelanjutan, Indonesia Timur diyakini mampu menjadi garda depan dalam mewujudkan ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan ramah lingkungan.





